Postingan

Seribu Kaki, Satu tempat

Dengan tertatih-tatih, waktu memaksaku berlari kencang. Dengan sebilah belati, waktu mencambukku tanpa ampun. Dengan mata nan buram, tanah menarikku menjadi krikil-krikil kecil. Dengan telinga tertutup, dentuman ketakutan semakin buas menggerogoti. Nafas menggantung dikerongkongan sang pembawa petuah. Tidak hidup, setengah mati. Bukan perut kosong yang paling kuat, tapi ego. Bukan gubuk tua yang paling memalukan, tapi jalanku. Sirine alam mengaung dengan tegas, mengingatkan akan kesia-siaan. Seribu kaki sudah lelah mencari tempat hanya untuk menatap pelangi. Tapi selalu ada tempat untuk pulang, selalu ada tempat untuk tertawa riang. Satu tempat dimana lelah dibasuh dengan ruang persegi sederhana. Satu tempat yang menjadi tameng ego-ego mahluk buas. Satu tempat yang sedang aku perjuangkan sekian tahun lamanya. Satu tempat.

Rindu itu indah

Rindu itu indah. Seperti memeluk angin. Menatap matahari. Tak ada yang bisa memahami. Jika hatimu ikhlas, rindu akan menjadi bunga tidur yang setia. Pengiring detak jantungmu. Penjaga setia dalam sabarmu. Tahukah kamu, Pelangi begitu indah, karena hati merindukannya. Jauh adalah identitasnya. Tapi suatu haru pelangi itu akan ada di pelupuk matamu. Pejamkan matamu, rasakan kehadirannya. Dia selalu ada, tidak dimanapun di dunia ini.. Tapi dia ada di hatimu. Rindupun ingin bertemu denganmu. Tidurlah, rindumu akan datang di hari yang indah. Rindu itu akan menjadi teman hidupmu. Rindu aku rindu. Rindu, terima kaish telah hadir di hidupku dalam bentuk dan cara yang indah.

Di Atas Bola

Berdiri tak seimbang. Berjalan tak melangkah. Semua serba bimbang. Terombang-ambing dalam buaian. Buaian di atas bola. Sungguh, ini mulai tak nyaman. Mulai berfikir untuk berhenti di emperan jalan. Hujanmu bertambah deras, tak bisa kubendung. Hanya berharap dan terhuyung-huyung. Jika kau bisa hujan tak bersuara. Aku akan menjadi puisi tanpa suara. Mata-mata mulai menjadi kerikil kecil. Janganlah begitu, aku bisa tertutup angin. Ini perjalanan. Ini Petualangan. Ini kisah tak bertuan. Menceritakannya dalam diam.

Tanda Tanya

hanya ini yang bisa kutorehkan, puisi sederhana. dimalam yang penuh tanda tanya, dan gundah gulana. ini ajaib, jalan yang beribu dan semu. ada setitik terang, yang membias sedalam awang. sadar itu ilusi, yang tak bisa hilang. aku membisu, diam. semua mati. entah apa yang kuperbuat, membuat semua ini menjadi tak jelas. salahkah,,benarkah,.. tapi ini pilihan. bukan sekedar bahan permainan.

Aku Bukan Masa Lalu

Tangan pencakar langit, kaki tiang tak terhempas. berdiri dipelupuk mata setiap nyawa, tanpa rasa was-was. semua menjadi indah, karena masa depan terlihat jelas. rasa takut terkikis musnah, rasa lelah terkikis lepas. tapi, air bukan hanya di lautan lepas. tapi, api hanya setitik  dari kuatnya rasa panas. Tak ada yang abadi, tak ada yang terus menanti. daratan masih tetap tak beranjak. teman setia yang tak pernah bertanya. tak melihat, tak mendengar. mungkin hanya itu teman yang paling indah. semua pergi saat, langkah terjal dan terhuyung-huyung. Dimana mahluk yang ada saat gunung masih dipuncak tertinggi. pergi. mati.

Hei kamu,...!

Tuhan hanya menguji. Dalam hidupmu terlelu banyak bahagia. Manusia yang kehilangan hati, tuli, dan buta. Jika kamu tahu ada juga merana. Tahukah kamu bagaimana kepedihan. Tahukah kamu hidup dengan keterbatasan. Tahukah kamu kesendirian, terkatung-katung di tengah keramaian. Kamu tak pernah kelaparan dan kekurangan. Pernahkah jauh dari keluarga yang kau rajakan. Hidup mewah dengtan harta melimpah. Tak pernah menangis dan nsusah. Hei kamu orang kaya, kaya karena harta orang tua. Kamu tak tahu rasanya menderita. Tengoklah kejendela. Kamu dan mereka sama-sama dari air yang hina,. Naif berharap abadi di puncak. Hidup adalah roda, kadang di bawah, kadang di atas. Lari mendobrak kabut, menutup bola mata. Bukalah matamu, kabut tak setebal yang kau kira. Bangunlah dari kesombongan yang mendekap. Hanya kehendak takdir tuhan yang berkata beda. Tuhan hanya menguji kita. Mungkin waktu akan tiba, disaat kamu bukan siapa-siapa.

Kisah Manis

Grak grik gruk gir. Jogja jakarta gambir. Bangun tidur, kereta kapan berakhir. Ku takut gerbongku tergelincir. Segudang rubrik dari kisah klasik. Secarik kertas berbaris berruas-ruas. Lembaran hitam,! Sekilas kelam dalam malam. Mutiara diruang tanpa tanda. Aku dalam gelpku Hutan suram lambaian padi Senandung rintik hujan. Mahluk jalan akhirnya diam Hujan gerimis dan seteguk kisah manis