Seribu Kaki, Satu tempat

Dengan tertatih-tatih, waktu memaksaku berlari kencang.
Dengan sebilah belati, waktu mencambukku tanpa ampun.
Dengan mata nan buram, tanah menarikku menjadi krikil-krikil kecil.
Dengan telinga tertutup, dentuman ketakutan semakin buas menggerogoti.
Nafas menggantung dikerongkongan sang pembawa petuah.
Tidak hidup, setengah mati.
Bukan perut kosong yang paling kuat, tapi ego.
Bukan gubuk tua yang paling memalukan, tapi jalanku.
Sirine alam mengaung dengan tegas, mengingatkan akan kesia-siaan.
Seribu kaki sudah lelah mencari tempat hanya untuk menatap pelangi.
Tapi selalu ada tempat untuk pulang, selalu ada tempat untuk tertawa riang.
Satu tempat dimana lelah dibasuh dengan ruang persegi sederhana.
Satu tempat yang menjadi tameng ego-ego mahluk buas.
Satu tempat yang sedang aku perjuangkan sekian tahun lamanya.
Satu tempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Bukan Masa Lalu

Ironi Udang

Gubuk Baruku