Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Hei kamu,...!

Tuhan hanya menguji. Dalam hidupmu terlelu banyak bahagia. Manusia yang kehilangan hati, tuli, dan buta. Jika kamu tahu ada juga merana. Tahukah kamu bagaimana kepedihan. Tahukah kamu hidup dengan keterbatasan. Tahukah kamu kesendirian, terkatung-katung di tengah keramaian. Kamu tak pernah kelaparan dan kekurangan. Pernahkah jauh dari keluarga yang kau rajakan. Hidup mewah dengtan harta melimpah. Tak pernah menangis dan nsusah. Hei kamu orang kaya, kaya karena harta orang tua. Kamu tak tahu rasanya menderita. Tengoklah kejendela. Kamu dan mereka sama-sama dari air yang hina,. Naif berharap abadi di puncak. Hidup adalah roda, kadang di bawah, kadang di atas. Lari mendobrak kabut, menutup bola mata. Bukalah matamu, kabut tak setebal yang kau kira. Bangunlah dari kesombongan yang mendekap. Hanya kehendak takdir tuhan yang berkata beda. Tuhan hanya menguji kita. Mungkin waktu akan tiba, disaat kamu bukan siapa-siapa.

Kisah Manis

Grak grik gruk gir. Jogja jakarta gambir. Bangun tidur, kereta kapan berakhir. Ku takut gerbongku tergelincir. Segudang rubrik dari kisah klasik. Secarik kertas berbaris berruas-ruas. Lembaran hitam,! Sekilas kelam dalam malam. Mutiara diruang tanpa tanda. Aku dalam gelpku Hutan suram lambaian padi Senandung rintik hujan. Mahluk jalan akhirnya diam Hujan gerimis dan seteguk kisah manis

Arang Penutup Debu

Berharap wangi, yang kudapat duri. Ini akhir, akal berfikir. Sampan kita sudah bocor. Bening menjadi kotor. Cahaya tidak salah, hanya redup dan patah. Jalanku, jalanmu sudah berbeda. Puncak masih di awang, bumi masih terbentang. aku ingin menjadi udang, sembunyinya menjadi pedang. aku ingin jadi rumput hijau, termenung layu dalam hampa, jaring tak putus dipotong belati, batu tak habis dibakar api. mati kusuka. beratap debu beralas batu aku mau. kalau kau seiring agamamu. orang tidak tahu arang penutup debu,. awan gelap setelahnya kelabu,.. Cahaya masihkah bercahaya. Semakin hilang ditelan dosa. Mungkin karena agama. Mungkin pula karena istiqomah. Rusuk kiri adam patah, maka rusaklah guratan sejarah

Dinul islam

Kala matahari mengintip dan terbenam. Sinaran cahaya merayap diatas perairan yang mulai lebam. Siang berbaju malam, hingga biasan mulai tenggelam. Matahari datar berharap menggapai san tiram. Semisal lembaran hitam di masa lalu yang kelam. Bintang jauh kan kupetik tanpa karam. Kaki terikat, pikran terbelenggu, badan kian mengeram. Kucelupkan tangan ternyata laut terlalu dalam. Kubentengi diri dari panah-panah setan tapi busur terlalu deras menghujam. Setan-setan menjadikan iman terancam. Tuhan lindungilah aku tetap hidup dalam agamamu, dinul islam.

Gubuk Baruku

Sesak nafas jika bernaung disini. Sejauh mata memandang hanya gumpalan sepi. Tempatku tidur, menanak, dan belajar. Tempatku bermunajat, untuk mengarungi lautan badai. Tempatku menangisi kisah ini. Gubukku, meski hidup ini belum berpihak. Gubukku, meski nafasku sudah sesak. Gubukku dengarkah kau? Aku anak terbuang merantau. Gubukku, meski dimata mereka hanya seenggok debu. Meski di mata mereka kau hanya rumah semu. Tapi,... Hanya kau selimut dalam sepiku. Hanya kau teman dalam galauku. Hanya kau obat dalam sakitku. Gubukku tabahkanlah aku. Dalam perjalanan yang penuh sendu dan rindu.

Si Fulanah

Wahai fulanah sang pencari arah,.! Namamu dalam hatiku tertanam sudah. Meski waktu berlalu ku takkan berubah. Hatiku mati tuk kelain arah. Ketika itu tersadar semua fana. Wahai fulanah, si hamba Allah,.! Cintaku sepekat tanah yang kian merekah. Membara merona berwarna merah. Deburan ombak membuatku pasrah. Hampir saja angin membuatku patah. Wahai fulanah sang muslimah,.! Cintaku kuat karena cintamu bergetah. Mengalir deras tertanam di aliran darah. Terbayang selalu di naungan manisnya wajah. Terhampar senyum di setiap langkah. Wahai fulanah wanita solehah,.! Meski kau tak tahu ku akan tetap tabah. Teguh hati ini takkan tergoyah. Setia ini takkan lelah. Sebab cinta ini karena cintaku kepada Allah.

Ironi Udang

ada di geladak samudra, dalamnya tak terhingga. paruh musim daun sontak beterbangan. terhapus angin melambai. lepaskan sorak sorai dada, jiwaku juga manusia, bukan dewa tak tentu penghuni surga, neraka. sekapas gulana terhapus durjana, takut sembari berdoa, ini petaka. angin tak sendiri di rimba tak berpenghuni, air tak sendiri di samurda mimpi. sedikit api, air sesamudra. sesamudra air tak seberapa api. manusiawikah? himpitan ini, aku ingin lepas, dan tabir bersenandung bebas. sesal aku dengar tak pantas, biarkan tanah mengeras. puncak cakrawala tertutup kelabu, daratan sejuta batu. pasak pencakar hendak lapuk, sedekat pelupuk. hitam putih, putih hitam. hitam tak mungkin nak putih. para petualang berhentilah mengangkat bahu. enggan, bersiaplah terjatuh

Menerka Salam

duduk termangu di sudut terang. cahaya samar menerawang. sehelai harapan menjadi debu pemburam. tegap tetap meski terlelap. kembali pulang hanya menjadi harap. ini biasa tidak biasa. antara ada dan tiada.ada apa. haha, cengeng. baru secuil waktu berlalu. haha, aneh. maumu tidak maumu. biar, aku anak terbuang. biar, aku merayap di tandus sepi. apa daya, tangan tak sampai. sampaikan saja salamku. pada ayah ibuku.